apakah sinterklas benar benar ada?
Sosok Sinterklas selalu tidak bisa dipisahkan dengan datangnya momen Natal. Sosok pria tambun berjanggut putih tebal ini diceritakan mengelilingi dunia di malam Natal dengan mengendarai kereta yang ditarik sekawanan rusa terbang. Dia kemudian akan mengunjungi tiap rumah lewat cerobong asap, membaca permintaan yang ada di dalam kaus kaki yang tergantung. Kemudian dari kantung besar yang selalu dibawanya, dia akan meletakkan hadiah bagi anak-anak yang baik di bawah pohon Natal.
Cerita seperti inilah yang selalu diceritakan para orang tua dan guru pada anak-anak. Kisah pria berbaju merah dari Kutub Utara tersebut selalu berhasil membuat anak-anak begitu terpana dan antusias mendengarkannya. Anak-anak kecil begitu mempercayai kisah itu. Maka menjelang malam peringatan kelahiran Yesus Kristus itu, semua anak sibuk menuliskan permintaannya dan memasukkannya ke dalam kaus kaki yang tergantung dengan harapan Sinterklas akan datang dan memberikan apa yang mereka minta. Esok paginya, memang benar, hadiah yang mereka minta sudah ada di bawah pohon Natal. Tetapi, tentu saja itu adalah hasil perbuatan dari orang tua mereka sendiri yang ingin menyenangkan hati anak-anaknya dengan mengatakannya itu adalah pemberian dari Sinterklas.
Sinterklas selalu menjadi kisah yang menarik, bahkan bagi yang sudah dewasa sekalipun. Tetapi setelah sekian lama mendengar kisahnya, akan terbesit suatu pertanyaan, apakah Sinterklas itu benar-benar ada? Untuk menjawabnya, terdapat banyak sekali cerita yang mengisahkan asal usul dari Sinterklas yang juga disebut dengan Santa Claus ini.
Cerita yang pertama muncul pada ribuan tahun silam. Berdasarkan legenda Eropa Utara, Sinterklas digambarkan dalam wujud dewa mereka. Pada saat musim dingin, dewa perang datang dengan menunggang kuda yang punya kaki 8. Dengan sekejab dia berpindah ke ujung langit penjuru laut untuk memberikan pujian serta hadiah bagi orang-orang yang baik dan menghukum orang-orang yang jahat. Sosok dewa inilah yang mereka anggap sebagai Sinterklas.
Ada juga cerita yang mengatakan bahwa Sinterklas berasal dari nama Saint Nicholas. Menurut cerita yang ada, dia dilahirkan di Lycia, sebuah kota pelabuhan kuno di Patara (Asia Kecil). Orang tuanya yang kaya raya adalah orang-orang Kristen yang saleh. Setelah orang tuanya meninggal, Nicholas memberikan warisannya untuk menolong orang miskin. Dia kemudian masuk ke Biara Sion Kudus, dekat kota Myra untuk mendapatkan pendidikan. Nicholas sempat berkelana ke Palestina dan Mesir, dan sekembalinya ke Myra menjadi uskup Myra.
Nicholas digambarkan sebagai seorang uskup yang ramah yang suka menolong anak-anak dan orang miskin. Keramahannya itu juga ditambah dengan mukjizat-mukjizat yang terjadi. Di Myra, Nicholas menghabiskan sisa hidupnya untuk memperhatikan orang yang sakit, merawat anak-anak yatim piatu, melindungi orang miskin dari ancaman para pemeras dan mempertahankan hak-hak orang Yahudi. Terlebih lagi dia senang bermain dengan anak-anak tanpa memperdulikan golongannya. Dia bahkan tidak keberatan memalukan martabatnya dengan mengijinkan anak-anak berandal dan jalanan untuk memakai topi uskup miliknya. Nicholas meninggal tahun 343 M dan dijadikan orang suci dengan gelar Saint Nicholas. Nama Saint Nicholas inilah yang diyakini menjadi cikal bakal dari munculnya nama Santa Claus. Cerita kemurahan hati dan kasih dari Saint Nicholas kepada anak-anak terus bertahan selama bertahun-tahun menjadi suatu legenda tentang Santa Claus.
Tentang Nicholas ini, ada juga cerita lainnya seperti yang dikisahkan oleh Metaphrastes di tahun 912 M yang menunjukkan satu alasan mengapa Saint Nicholas menjadi sebuah legenda Santa Claus. Pada masa itu ada sebuah keluarga yang terjerat kemiskinan. Keluarga itu punya tiga orang anak perempuan yang sudah layak menikah, tetapi karena miskin maka sang ayah tidak bisa menyediakan mas kawin bahkan untuk satu calon menantu saja. Dia begitu terdesak sehingga dengan terpaksa harus memutuskan menjual anak-anak gadisnya ke tempat pelacuran sebagai jalan keluar satu-satunya. Namun suatu malam anaknya berteriak ada seseorang yang memanjat terali rumahnya. Sang ayah segera keluar rumah sambil membawa balok kayu.
Ketika dia membuka pintu, terdengar suara berdebum di atas. Tampaknya penyusup itu melemparkan sesuatu ke dalam kamar putri-putrinya dan kemudian menuruni terali. Ayah yang sedang kalut ini segera menangkap penyusup itu. Tiba-tiba putri yang tertua lari menghampiri dan menunjukkan sebuah tas kulit penuh dengan uang emas yang dilemparkan penyusup itu. Sang ayah menjadi bingung apa maksud penyusup itu. Penyusup itu menjelaskan bahwa ia seorang Kristen dan orang tuanya baru saja meninggal dan mewariskan kekayaan yang besar. Pemuda ini mengikuti apa yang dikatakan Tuhan, kalau kita harus menjual harta kita dan memberikannya kepada orang miskin, kemudian mengikutiNya. Pemuda itu tahu kesulitan dan rencana keluarga miskin itu, maka memutuskan untuk memberikan warisannya untuk membantu keluarga itu.
Pemuda itu adalah Nicholas yang sengaja datang secara sembunyi-sembunyi karena sesuai dengan perintah Yesus yaitu jika memberi kepada orang miskin dengan tangan kanan, tangan kiri tidak perlu tahu. Nicholas meminta keluarga tersebut untuk memakai uang yang dia berikan dengan syarat tidak memberitahu siapapun mengenai hal itu. Ayah itu berjanji dan selama bertahun-tahun tidak menceritakan bagaimana dia mendapatkan mas kawin untuk gadis-gadisnya.
Sedangkan di Jerman, berkembang asal-usul Sinterklas berdasarkan pada cerita Dewa Woden/Odin. Woden digambarkan dalam mitologi sebagai sosok yang memakai jubah dan menunggang kuda putih yang bisa terbang. Dia mempunyai janggut putih yang panjang dan membawa tongkat panjang. Woden selalu membawa sebuah buku di dalam tangannya, karena itu dipercayai dia punya sifat bijaksana. Menurut Phyllis Siefker, anak-anak biasa mengisi sepatu mereka dengan wortel, jerami dan gula. Kemudian menempatkannya di dekat cerobong asap untuk makanan bagi kuda milik Woden. Woden akan membalas kebaikan anak-anak itu dengan memberikan hadiah atau permen sebagai gantinya.
Kemudian cerita ini berkembang lagi dalam wujud orang suci yang berkeliling dunia dengan mengendarai kereta kuda beroda dua. Dia akan mengamati sikap dan perilaku orang-orang, terutama anak-anak. Apabila berperilaku baik, maka dia akan meletakkan buah apel, buah berkulit keras, permen dan sejumlah besar hadiah lainnya ke dalam sepatu anak itu. Sedangkan anak yang buruk perilakunya hanya akan mendapatkan cambuk. Inilah yang sering dipakai oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya.
Di Italia, Sinterklas dikenal dalam bentuk cerita seorang nenek sihir yang bernama Befana. Sesaat sebelum Yesus lahir, dia mendapatkan tugas dari malaikat, sama seperti juga orang Majus, untuk memberikan hadiah kepada Yesus pada saat Yesus dilahirkan. Tetapi karena lalai, dia datang terlambat. Karena itu Befana mendapat hukuman. Tiap tahun sebelum peringatan kelahiran Yesus, dia harus memberikan hadiah sebanyak mungkin kepada anak-anak kecil yang tidak mampu. Kisah ini dipercayai oleh banyak orang di Italia, sehingga para pemuka agama mengambil keputusan mengalihkan kepercayaan ini ke Sinterklas. Dari sinilah awal mula kepercayaan bahwa Sinterklas selalu memberikan hadiah kepada anak-anak.
Di Belanda, berkembang pula cerita lain. Dari negara ini, nama Sinterklas berasal. Sinterklaas adalah sebutan dalam bahasa Belanda untuk Santa Claus yang dikenal negara-negara lain. Sinterklaas adalah seorang uskup. Dia selalu memakai baju uskup dan topi uskupnya yang keduanya berwarna putih. Sinterklaas selalu memegang tongkat uskupnya yang berwarna hitam dengan bagian atasnya yang melengkung. Dia juga membawa sebuah buku besar, yang mencatat apakah setiap anak bersikap baik atau nakal dalam setahun. Sinterklaas menunggang kuda putih yang terbang di atas rumah-rumah.
Sinterklaas punya asisten yang bernama Black Pete. Kisah asal-usul dari Black Pete bermula dari adanya tiga anak bangsa Moor yang akan dihukum mati karena kejahatan yang tidak mereka perbuat. Sinterklaas akhirnya turun tangan dan mereka dapat dibebaskan. Sebagai wujud terima kasih mereka, anak-anak itu tinggal dengan Sinterklaas untuk membantunya masuk ke dalam cerobong asap untuk memberikan hadiah. Anak-anak biasanya menyanyikan lagu-lagu di sekitar cerobong asap untuk Sinterklaas. Para Black Pete itu yang akan mendengarkannya dari atas cerobong asap. Mereka akan menentukan apakah anak-anak itu telah menyanyikan lagu-lagu dengan betul dan sudah menyediakan makanan untuk kuda Sinterklaas, yaitu Karot dan Jerami. Jika semuanya terpenuhi, Black Pete yang akan memberikan hadiah kepada anak-anak itu melalui cerobong tersebut. Kata black di sini bisa mengacu pada latar belakang bangsa Moor-nya atau bisa juga karena tugasnya masuk ke dalam cerobong asap yang membuat mereka terkena jelaga.
Ada juga yang mengatakan Sinterklaas dan para Black Pete-nya biasanya membawa kantung, yang mana berisi permen untuk anak yang baik dan sekumpulan ranting pohon willow (menjadi seperti bentuk sapu untuk cerobong asap) untuk memukul pantat anak yang nakal. Pada lagu Sinterklaas yang lama, bahkan disebutkan anak yang nakal akan dimasukkan ke dalam kantung dan dibawa ke Spanyol. Mungkin kisah Sinterklaas versi Belanda inilah yang paling banyak dikenal sampai sekarang.
Cerita ini kemudian terus bertahan dan dibawa ke benua Amerika. Di sini, penampilan Sinterklas banyak disempurnakan sesuai pandangan masing-masing orang. Yang pertama, seorang penulis Amerika yang bernama Washington Owen, menggambarkan Sinterklas dalam sosok seorang kakek Belanda yang gemuk dan bundar dalam drama komedinya yang berjudul “Sejarah New York”. Kemudian pada tahun 1823, penyair Clement Moore menampilkan Saint Nicholas sebagai Sinterklas dalam sajak dan lagunya “Kesan St.Nicholas”. Penggambaran yang paling modern diilustrasikan pada tahun 1960 oleh pembuat film kartun Thomas Nash melukiskan Sinterklas sebagai seorang pria gemuk dan selalu gembira. Dia memakai mantel dan celana panjang merah dengan kancing dan kerah putih, serta sabuk kulit dan sepatu hitam. Ilustrasi ini sangat populer di Amerika pad abad 19 yang terus bertahan sampai sekarang.
Kisahnya pun semakin berkembang, dengan dikatakan Sinterklas tinggal di Utara jauh, di tanah yang penuh salju. Pada versi Amerika dikatakan tinggal di Kutub Utara sedangkan pada versi Inggris dikatakan tinggal di Lapland. Detail lainnya juga muncul, Sinterklas dikatakan menikah dan tinggal bersama Nyonya Claus. Sinterklas membuat daftar semua anak di seluruh dunia, dan mengelompokkan mereka menurut kelakuan mereka. Dia akan memberikan mainan dan permen dan hadiah lainnya kepada anak-anak di seluruh dunia yang berkelakuan baik. Pada anak-anak yang nakal, akan diberikan arang dan tongkat. Dalam waktu satu malam saja, dia menyelesaikan seluruh tugasnya dengan bantuan para peri untuk membuat mainannya dan ada 8 atau 9 rusa kutub terbang untuk menarik kereta luncurnya.
Seiring bergulirnya waktu, cerita Sinterklas menyebar ke seluruh pelosok dunia. Sejumlah besar negara punya nama sendiri untuk Sinterklas ini. Di Perancis diberi nama Father Christmas atau Pere Noel. Di Swiss bernama Christkindl atau Christ Child. Untuk Inggris, sama dengan Perancis yaitu Father Christmas, hanya saja sosoknya agak berbeda dengan digambarkan lebih kurus dan lebih formal dibanding lainnya.
Dari sini kita tahu bahwa Sinterklas itu memang ada asal-usulnya, bukan hanya sekedar cerita fiksi belaka. Sosoknya benar-benar ada seperti yang terlihat pada sosok Saint Nicholas. Meski memang dalam perkembangannya, figur Sinterklas telah ditambah dengan mitos-mitos dan imajinasi orang-orang yang meneruskan cerita tentang ini. Jadi masih wajar-wajar saja kalau Anda masih mencoba mengenang masa lalu dengan memasukkan permintaan Anda ke dalam kaus kaki dan menggantungkannya di dekat perapian dan pohon Natal. Sah-sah juga Anda menuliskan permintaan: “Dear Sinterklas, minta Sandra Dewi dong…..”. Tapi jangan kaget pula kalau besok paginya, Anda akan mendapatkan kertas jawaban yang berisi: “Apa Sandra Dewi?!? Emangnya loe Brad Pitt?”. Entah siapa pun itu yang menulisnya.
“Ho...ho...ho...., Merry Christmas everyone!”